Foreword

bannerwpgif

Welcome to My Blog…..

Ini blog yang kubuat khusus untuk K-Pop. Selain blog ini, aku juga punya personal blog di noctem stellae

DI blog ini  konsennya di FF. Apalagi tentang Sooyoung karena Sooyoung itu biasku.

Di sini pairingnya kebanyakan Sooyoung-pairing. Mulai dari yang Soo-het sampai Soo-girl. Meskipun aku gasuka pairing girlxgirl, tapi aku suka SooSica dan masih menolerir kalau ffnya tidak begitu eksplisit love story antara girlxgirl-nya. Well, aku juga kadang nulis tentang SooSica sih, tapi mostly ya friendship. Untuk daftar fanfiction yang aku buat, bisa di cek di Fics Index yaa.

Blog Ini juga isinya portfolio beberapa artworks-ku. Banyak yang masih jelek yah? hehehe ^^ maklum aku masih belajar  mengedit grafis.

Meskipun ini blog suka-suka, tetap harus ada disclaimer-nya ya. Dan juga sedikit pemberitahuan ;

* Disclaimer : Segala isi blog ini adalah hasil tulisan dari Ra Matahari/raysooya kecuali posting-posting yang diambil dari sumber lain akan disebutkan sumbernya. Semua karater fanfiction di blog ini bukan punya saya, dan fanfiction disini adalah murni hanya untuk hiburan semata dan tidak ada tujuan untuk menjelek-jelekkan karakter-karakter tersebut, dan juga tidak untuk tujuan komersil.

NO PLAGIARISM. Tolong jangan ada yang plagiat, baik Fanfictions, Graphics, Arts, dan apapun yang aku post disini . kalian juga pasti ga suka kan kalau ada yang plagiat karya-karya kalian ^^. 

Finaly, Enjoy my blog

Cheers,

Ra^^

A Winter Tale

난 널 사랑해

png

Title : A Winter Tale
Author : Ra Matahari (@raysooya)
Genre : Romance, light angst
Cast : Changmin, Sooyoung
Rating : PG-13

I owe Eowyn Ivey a credit for her amazing book, The Snow Child, which is my inspiration to write this story.

***

Begitu dia menatap lelaki itu, cinta… mengisi setiap serat dalam wujudnya, dan dia tahu bahwa inilah emosi yang telah diperingatkan padanya oleh Roh Hutan.

Airmata mengambang di matanya—dan tiba-tiba dia mulai meleleh.

-Snegurochka, English translated by Lucy Maxym

 

View original post 4,349 more words

Milan [6]

난 널 사랑해

milan_city1

Title      : Milan

Author   : Ra Matahari (@raysooya)

Cast      : Choi Sooyoung & Shim Changmin

Length   : Chaptered

Rating   : General

Genre   : Romance, Metropop, Slice of Life

Disclaimer : Milan adalah karya fiksi asli saya meskipun nama dan karakter dalam cerita ini didasarkan pada karakter nyata. Jika ada kesamaan plot/cerita hal tersebut murni ketidaksengajaan.

This work just purely for entertainment purpose.

***

Prev : Milan [1] Milan [2] Milan [3] Milan[4] Milan [5]

Milan – Chapter Six

Kami masih duduk di salah satu sudut paling nyaman kafe yang terletak di Via Della Spiga. Dua cangkir kopi di atas meja sudah tidak mengepulkan uap lagi, malah isinya sudah berkurang setengah.

Lelaki di depanku masih sibuk memijit-mijit keypad Blackberry-nya, entah mengetik apa. Diam diantara kami tidak berlangsung lama, karena aku langsung angkat bicara begitu dia meletakkan Blackberry-nya di atas…

View original post 2,362 more words

Milan [5]

난 널 사랑해

milan_city1Title      : Milan

Author   : Ra Matahari (@raysooya)

Cast      : Choi Sooyoung & Shim Changmin

Length   : Chaptered

Rating   : General

Genre   : Romance, Metropop, Slice of Life

Disclaimer : Milan adalah karya fiksi asli saya meskipun nama dan karakter dalam cerita ini didasarkan pada karakter nyata. Jika ada kesamaan plot/cerita hal tersebut murni ketidaksengajaan.

This work just purely for entertainment purpose.

***

Prev : Milan [1] Milan [2] Milan [3] Milan[4]

Another discovery in Milan.

Milan-Chapter Five

Sebuah email.

Aku membukanya dengan asal-asalan dan menemukan bahwa Max yang mengirimkannya. Merasa masih sebal dengan perbuatannya yang mengusirku semalam, aku memutuskan untuk tidak membacanya.

Hari ini aku berencana untuk diam saja di apartemenku, menenggelamkan diri di tengah manga-manga favoritku yang entah sudah keberapa kalinya kutamatkan. Aku duduk di samping jendelaku yang tirainya sudah kubuka lebar sehingga apartemenku tampak tebih terang…

View original post 2,780 more words

Reason To Stay : A Tribute to Sooyoung’s 25th Birthday

Rm87i

A month ago, when I first heard news about Sooyoung is dating, I felt like my heart was gone. I started to feel afraid if then I’ll hate her because of that. Maybe I’ll hate myself also for hating her. I was so afraid and worried back then. I was worried more at that time because my other Sooyoungster friends seemed like that they would change their bias. Something inside me screamed out loud, afraid that I’ll be the only one who stayed.

Continue reading

Snow Dance : Jessica

Well, ternyata lebih panjang daripada kubayangkan. Jadi biar yang baca nggak terlalu bosan, postingnya per bagian dulu. Tapi nggak panjang banget-bangetan kok, nggak sampai berchapter-chapter dan yang pasti ini akan selesai (maksudnya ngga bakal ditelantarkan, gitu) Paling panjang tiga bagian, kalo nggak ya dua bagian *nyengir.

Yaudah sih, selamat membaca aja hehe. Ditunggu segala macam feedbacknya ^^

Disclaimer : The content of this story, though based on real characters, are purely fiction. Similarity with other stories is a pure coincidence and I apologize in advance.

aaa

Snow Dance : Jessica

#0

Warna apa yang mengingatkanmu pada salju?

Putih.

Ya, semua orang akan menjawabnya seperti itu, aku tahu. Aku tidak begitu bodoh jadi jangan menertawakanku. Meskipun aku tidak terpelajar sepertimu, tentu saja.

Aku bertanya bukan karena aku ingin tahu jawabannya. Aku bertanya karena ingin mencari pembenaran. Mungkin selama ini mataku salah melihatnya, tapi kupikir warna putih tidak hanya mengingatkanku pada salju. Karena itu… karena itu aku menanyakannya padamu, apakah salju diluar benar-benar berwarna putih? Jika benar, betapa menyedihkannya.

Banyak orang bilang warna putih itu cantik. Lambang kesucian dan ketulusan. Kebaikan diwakili oleh warna putih. Malaikat diasosiasikan dengan warna putih dan sayap-sayap mereka yang lebar juga putih.

Sedangkan aku, jujur saja, benci warna putih.

Bagiku, putih adalah warna kematian. Warna putih adalah warna dinding rumah sakit yang tinggi, sprei-sprei dan tempat tidur dengan bau disinfektan menyengat. Putih adalah warna pil-pil pahit yang keras.

Kematian berwarna putih. Ia juga punya anjing-anjing putih yang tertaut dengan tali di tangannya. Hantu juga berwarna putih. Dewa-dewa yang haus darah hanya bisa dipuaskan dengan binatang-binatang putih.

Seperti yang sudah kukatakan, warna putih tidak hanya mengingatkanku pada salju. Dia juga mengingatkanku akan diriku sendiri. Putih adalah warnaku saat ini; warna kematian.

Hey, warna apa yang kaupunyai saat ini?

***

  Continue reading

Cover for Project Snow : Snow Dance

snowdance1

Warna apa yang mengingatkanmu pada salju?

Putih.

Ya, semua orang akan menjawabnya seperti itu, aku tahu. Aku tidak begitu bodoh jadi jangan menertawakanku. Meskipun aku tidak terpelajar sepertimu, tentu saja.

Aku bertanya bukan karena aku ingin tahu jawabannya. Aku bertanya karena ingin mencari pembenaran. Mungkin selama ini mataku salah melihatnya, tapi kupikir warna putih tidak hanya mengingatkanku pada salju. Karena itu… karena itu aku menanyakannya padamu, apakah salju diluar benar-benar berwarna putih? Jika benar, betapa menyedihkannya.

Banyak orang bilang warna putih itu cantik. Lambang kesucian dan ketulusan. Kebaikan diwakili oleh warna putih. Malaikat diasosiasikan dengan warna putih dan sayap-sayap mereka yang lebar juga putih.

Sedangkan aku, jujur saja, benci warna putih.

Bagiku, putih adalah warna kematian. Warna putih adalah warna dinding rumah sakit yang tinggi, sprei-sprei dan tempat tidur dengan bau disinfektan menyengat. Putih adalah warna pil-pil pahit yang keras.

Kematian berwarna putih. Ia juga punya anjing-anjing putih yang tertaut dengan tali di tangannya. Hantu juga berwarna putih. Dewa-dewa yang haus darah hanya bisa dipuaskan dengan binatang-binatang putih.

Seperti yang sudah kukatakan, warna putih tidak hanya mengingatkanku pada salju. Dia juga mengingatkanku akan diriku sendiri. Putih adalah warnaku saat ini; warna kematian.

Hey, warna apa yang kaupunyai saat ini?

***

Yak, jadi itu adalah cover dan sedikit blurb (?) atau teaser atau terserah mau disebut apa dari proyek baruku. Iya, setelah otp utamaku kandas, aku mau nulis tentang otp keduaku yang sepertinya sekarang jadi otp pertama (walau sama saja sih ga ada momennya). Sebenarnya sudah lama punya keinginan nulis tentang Jaesica tapi baru sekarang dikerjakan. Itu juga karena ada katalisnya yaitu momen patah hati sama otp utamaku. Ga tau juga kapan cerita utuhnya akan di post, tapi sekarang udah setengah jalan sih. Semoga bisa selesai dalam waktu dekat ini.

Udah, gitu aja ._.

Ra

Polaris : Farewell

polariqs

Ditulis kemarin, dengan perubahan ending yang dilakukan hari ini setelah tahu kalau Sooyoung berpacaran dengan Jung KyungHo.

Polaris : Farewell

by : Ra Matahari

When you go, I’ll let you be
But you’re killing everything in me –
Polaris by Jimmy Eat World

Seoul pada waktu malam hari terlihat sama. Gedung-gedung pencakar langit yang sama. Lampu-lampu perkotaan yang sama. Dentum musik yang selalu keras terdengar berbaur dengan raungan berbagai kendaraan yang memenuhi jalanan kota. Orang-orang mabuk berkeliaran di jalan dan muntah di sembarang tempat. Juga rutinitas pekerjaan yang sama.

Dia bisa mati bosan jika terus-terusan berada di kota ini. Jadwalnya untuk minggu ini begitu padat. Pengambilan foto untuk album terbaru, kesibukannya menjadi mc dan latihan untuk comeback hampir-hampir membuatnya ingin melarikan diri sebentar. Sebentar saja ia ingin beristirahat, dan pergi dari Seoul. Pergi ke tempat dia bisa menenangkan diri dan tanpa ada sorotan kamera dimana-mana.

Mungkin berdiam di rumah adalah pilihan paling aman yang bisa dicapainya saat ini. Tapi di rumah pun baginya tak nyaman lagi. Dia sedang berselisih dengan Soojin dan menghabiskan waktu di dalam rumah bersama kakak perempuannya tidak akan begitu mudah.

Gadis itu menengadahkan kepalanya ke arah langit. Langit di atas begitu terang, memantulkan cahaya-cahaya lampu yang menerangi Seoul. Di menghela nafas. Dia tidak akan pernah bisa melihat bintang dari Seoul. Cahaya bintang yang redup tentu tenggelam, membaur bersama cahaya yang dihasilkan oleh lampu.

Udara hangat yang keluar dari mulut dan hidungnya membentuk kabut putih yang memudar setelah beberapa detik melayang-layang di udara. Getaran di saku mantel membuatnya mengalihkan pandangan dari langit.

“Halo?” Gadis itu menyapa si pemanggilnya.

“Maafkan aku, Oppa. Hari ini tidak bisa. Ya, ada pesta kecil-kecilan dengan orang-orang di kantor,” dia mengambil jeda sejenak, mendengarkan perkataan orang yang meneleponnya.

“Ya. Mereka sudah mengumumkannya, kan? Aku tahu. Kita tidak bisa mencegah mereka untuk berspekulasi. Huh? Kenapa kau berpikiran seperti itu? Aku tidak apa-apa. Maaf, aku jadi memberatkanmu,” dia tersenyum kecil ; setengah geli, setengah miris.

“Aku akan pulang besok. Hm? Tentu saja! Aku juga mencintaimu. Ya? Umm, kalau begitu, aku tutup teleponnya. Annyeong, Oppa.” Gadis itu mengakhiri pembicaraannya dan memasukkan telepon ke dalam saku. Ketika dia berbalik, mobil van putih yang familiar telah menunggunya. Seorang gadis seusianya melambai dari dalam van.

“Unnie! Cepatlah naik!”

Gadis itu menghela nafas, kemudian mulai berlari ke arah van putih tersebut.

Continue reading